Menjawab Dilema
29 Mei 2013, tepat ketika umurku beranjak menjadi kepala dua. Bukan sesuatu yg harus dirumitkan sebenarnya, bahkan sesuatu yg seharusnya disederhanakan karena bertambahnya umur diiringi dengan berkembangnya pemikiran.
Ketika kuliah dahulu, aku termasuk orang biasa jika dilihat dari indeks prestasiku, tetapi aku termasuk 1 dari 3 orang yg berhasil menyelesaikan program studi dengan durasi 1 tahun 11 bulan, atau hanya 6 semester, yg dimana program studi seharusnya adalah 2 tahun 8 bulan atau 8 semester. Pada saat itu aku berfikir, lulus lebih awal akan sukses lebih awal. Ternyata sukses tidak ditentukan secara total dari jenjang pendidikan. Ketika teman temanku menulis lirik-lirik lagu, bait per bait untuk dijadikan karya mereka, aku masih mempersiapkan kuis-kuisku dihari esok. Ketika teman-temanku mencoba untuk memulai bisnis, aku masih mengerjakan tugas tugasku. Ketika teman-temanku bersantai karena telah habis ujian mereka, aku masih belajar mempersiapkan ujianku. Tetapi setelah lulus dari dunia perkuliahan, kehidupan luar tampak asing. Dunia dimana kita sendiri yg menentukan deadline. Deadline dari tugas tugas kehidupan, semua ada ditangan kita.
Dilema itu muncul, aku menyebutnya dilema masa depan. Ketakutan antara kesuksesan dan tidaknya dimasa depan yg mungkin dialami oleh setiap insan di dunia. Kebingungan yg tidak berhujung atas apa yg harus aku lakukan sekarang, mau kemana kubawa semua sertifikat-sertifikatku, mau kemana kubawa gelar Diploma in Business Administration yg telah kuperoleh itu. Itu semua hanyalah indek prestasi yg dituliskan di secarik kertas, dan bukan sebagai tolak ukur sebagai kesuksesan di Universitas Kehidupan.
Dan sekarang kumulai melihat teman-temanku sudah mengenalkan lagu yg dahulu mereka tulis bait per bait ketika aku masih mempersiapkan kuis-kuis ku. Aku juga mulai melihat teman-temanku sudah mulai memperlihatkan hasil dari usaha yg mereka bangun ketika aku masih mengerjakan tugas-tugasku. Dan aku sadar, terkadang kita harus melihat kehidupan dari perspektif yg berbeda.
Lalu aku terfikir, bahwa lagi-lagi aku telah salah menilai usiaku. Bertambah tua seharusnya menjadi sederhana. Begitu juga dengan cara berfikirku. Ini bukanlah saatnya aku harus menyesali masa lampau, ini bukanlah saatnya aku tinggal di masa lampau. Biarlah itu berlalu. Yang harus aku pikirkan adalah bagaimana menjawab dengan positif dilema yg aku alami sekarang. Bangkit dan tinggal keterpurukan di masa lampau!


1 comments:
Great boy....you start knowing the meaning of life.....to change is not easy., but its more difficult to continue in poverty and no education