kalau kata orang dulu, "bak tiada kenestapaan atas cintanya"




Disuatu sore dihari minggu, saya sekeluarga berkunjung ke rumah kerabat orang tua saya yang sederhana. Kami disambut dengan ramah dan disuguhkan dengan berbagai suguhan oleh sang pemilik rumah. Rumah yg sederhana itupun terlihat agak sesak karena didatangi oleh satu keluarga yang beranggotakan 11 orang. Saya dan semua saudara saya diperkenalkan satu persatu kepada pemilik rumah oleh orang tua saya.


Topik demi topik sudah dibincangkan, segala canda dan tawa pun sudah selesai dan hari pun sudah mulai gelap. Hingga saatnya saya dan sekeluarga harus bertolak balik ke rumah. Sesuai dengan ada orang Indonesia,  sang pemilik rumah mengantarkan kami sampai pintu depan rumahnya. Sebelum berpamitan sang pemilik rumah berkata sesuatu yang selalu saya dengar ketika bertamu ke suatu tempat. Yaitu 'wah bapak ibunya kalah tingginya sama anak anaknya'. Dengan cuek saya berkata dalam hati 'yes everybody said so'. Saya pun mengharapkan dan mengira jawaban yang selalu dikatakan oleh orang tua saya 'iya alhamdulillah'. Tetapi saya mendengar sesuatu yg berbeda. Yang membuat kesombongan atau rasa bangga diri saya runtuh. Ayah saya yang biasa saya panggil abi berkata dengan 'kan kyk di iklan, disaat kita kalah, disaat itulah kita menang'. Rasanya kesombongan dan rasa bangga itu diinjak-injak dimusnahkan detik itu juga. Rasanya dijatuhkan dari langit ke tujuh. Semua pengorbanan cuma untuk anak anaknya. Tulus. Kalau kata orang dulu 'bak tiada kenestapaan atas cintanya'.

And i'm proudly presenting this to my father :


Share This Article Facebook +Google Twitter Digg Reddit