Melihat kebawah dan keatas



Tepat pukul 9 malam aku sampai dirumah dengan basah kuyup dan rasa lelah karena rutinitas sebagai karyawan sebulan ini. Ditambah lagi jalanan ibu kota yang hampir selalu terprediksi. Macet. Lalu aku langsung beranjak ke kamar dan mengganti semua pakaianku lalu lekas tidur.

Tetiba aku terbangun karena mendengar ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku terbangun dengan keadaan sekitar gelap gulita. Hanya ada satu arah cahaya dari dekat pintu kamar. Ya, cahaya handphone. Ternyata ayahku yang mengetuk pintu kamar. Beliau berkata 'I'm token listriknya habis, beli gih'. Dengan lelahnyaaa aku mengeluh keras dalam hati 'kenapa habiis pas jam seginii dengan keadaan hujaan dan tepat jam 12 malam'. Lalu aku beranjak dengan segala keluh tetap berada dikepalaku dengan mobil ayahku.

Ketika dimobil aku berfikir. Bagian mana yang harus aku keluhkan? Mungkin diluar sana ada yang berbahagia ketika orang tuanya membangunkannya dan berkata 'nak ibu punya uang untuk membeli token listrik jadi kamu bisa belajar malam ini'. Aku yakin sebagaimanapun kondisinya, anak itu ga akan mengeluh. Mungkin aku harus lebih sering melihat kebawah untuk bersyukur. Dan melihat keatas untuk memotivasi
Share This Article Facebook +Google Twitter Digg Reddit